Indonesia already had National
Strategy for Financial Inclusion (SNKI) as the national strategy to increases financial
inclusion level in Indonesia. One of the objectives is to achieve financial
inclusion index at 90% by 2024. Financial inclusion index itself can be defined
as the percentage of population that already had access to formal financial services.
To know the percentage of achievement, every year National Council for Financial
Inclusion (DNKI) held National Survey for Financial Inclusion.
The results of national survey of
financial inclusion show the progression over the years. For the account usage
indicator, in 2013 only 59,74% but in 2021 already achieved 83,6% with the
positive trends and for the account ownership indicator, in 2014 only 31,3% but
in 2021 the realization 65,4%.
The big question is who can
create this significant improvement?
In my opinion, the millennials are
the game changer for these significant improvements. Based on Indonesia Millennials
Report 2022, 90% of millennials already have a bank account, with the usage of
internet banking services 22% and digital bank accounts 11%. No wonder
millennials have the significance for the financial inclusion because they have
access to technology and the breadwinners for the family.
The next question is, what’s
next?
I think for millennials, we
should increase the cashless transaction to increases the efficiency money
flow. There are 72% of millennials already own cashless financial products,
with 46% have e-wallet and 4% have e-money. Maybe for e-money with the card
based, we have the difficulties to increases the usage due to limitation
facilities. But for e-wallet or e-money with the server based, I think we can
increase the usage, because there are the tremendous innovations in Indonesia
called QRIS (QR Code Indonesian Standard). By using QRIS, the flow of money become
very fast. We can use every providers of e-wallet or e-money server based by using
one QR (QRIS). We should promote QRIS more massive so the number of users can
significantly increase.
It’s been a long time since my
last post. I would like to changes the function of this blog to become my random
notes in English. I hope all of you can give some advises to me about how to
improves my English skills, especially in Writing Skills so I can get my IELTS
score at least 7,0. I wish I can do this to achieve my next target to study master
degrees overseas.
"What
do you think about open information to all people, in context of academician,
businesses, and researcher? Or not all of information can widely share?"
My writing answer:
One of the popular food chain restaurants,
KFC, has a slogan for their product “Making with 11 secret recipes”. I think
with the secret recipes, we can taste a very delicious food, especially for
their original type. So, regarding the case about open access to all people or
not all of information can widely share, in my opinion, I couldn’t agree for
open information access to all people, we shouldn’t open all of information,
mainly for the secrets.
The secrets information become
our strengths in all aspects. One of the famous theories called “Johari Window
Model”, explained one window as our hidden part, where you know the information
but not known by others. In soccer, we always thinking the “black horses”, when
we know the underdog team can won the competition. I think that conditions can
happens when we know the parts that’s other not known. So, I think when we can
kept our secret information, we can win the competition.
Although with the open
information we can get the significances improvement over the time, but we should
consider the benefits to ourself when we share the information. So, the
copyright and intellectual property right registration become the important things.
When we registered our product with the copyright or intellectual property
right, we can get the monetary benefit.
In summary, there is an added
value for us when we don’t share too much information in public. But, when we
share the information, we should register our product with the copyright or intellectual
property right. I think in the future, we’ll seen much information in public
with the copyright or intellectual property right.
Beberapa waktu yang lalu seorang artis, influencer dan
pengusaha, Raffi Ahmad berulang tahun. Terdapat hal yang spesial di ulang
tahunnya yang ke 35 tahun, yaitu hadiah mesin ATM dari Bank BNI. Mesin ATM tersebut, ditempatkan di kantor RANS
Entertaiment yang juga merupakan rumah nya di daerah bilangan Lebak Bulus,
Jakarta Selatan.
Dalam
konteks bisnis, rasanya tidak ada yang salah dengan hadiah mesin ATM yang
diberikan oleh BNI. Raffi Ahmad dengan followers sebanyak 59,6 juta
memang telah menjadi magnet tersendiri untuk mempromosikan produk. Bank BNI
sendiri menerangkan bahwa penempatan ATM tersebut telah masuk dalam Rencana
Bisnis Bank (RBB) dan merupakan hasil kerja sama antara Bank BNI dengan RANS
yang merupakan nasabah utama.
Apabila
dilihat dari konteks keuangan inklusif, rasanya pemberian hadiah berupa mesin
ATM ke Raffi Ahmad menjadi sebuah hal yang dilematis. Survei Nasional Keuangan
Inklusif (SNKI) yang dilakukan oleh Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI)
tahun 2020, menunjukkan bahwa 81,4% orang dewasa pernah menggunakan produk atau
layanan keuangan formal. Sementara itu, kepemilikan akun baru sebesar 61,7%
dari penduduk dewasa. Hasil dari SNKI tersebut menunjukkan bahwa belum seluruh
masyarakat Indonesia telah menggunakan dan memiliki akun untuk akses ke layanan
keuangan formal. Apabila dilihat lebih dalam terkait dengan akses pada layanan,
berdasarkan data BPS pada tahun 2020, menunjukkan jumlah mesin anjungan tunai
mandiri (ATM) masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sebanyak 516 unit per 1.000 m2.
Sementara itu, untuk daerah timur Indonesia, Maluku dan Papua, jumlah mesin ATM
hanya sebanyak 4 (empat) unit per 1.000 m2. Dengan melihat kondisi
tersebut, menurut hemat saya, akan lebih bijak apabila penggunaan mesin ATM
tidak dibuat secara khusus untuk kelompok tertentu yang nantinya akan mendorong
financial exclusive.
Dalam perluasan keuangan inklusif memang tidak semudah
menambah mesin ATM, menambah jumlah kantor cabang bank, dan hal-hal fisik
lainnya. Namun diperlukan peningkatan literasi masyarakat akan keuangan,
bisnis, dan digital agar inklusi keuangan bisa merata di seluruh Indonesia.
Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang dikomandoi oleh DNKI dengan dibantu oleh
Pelaku Industri, Asosiasi, FinTech dan masyarakat.
Did you
know guys, kalau di liris Laporan Indonesia Spotlight periode Agustus 2020,
dari survei yang dilakukan ke 586 pekerja informal di Indonesia, 86% dari mereka
sangat terdampak COVID-19 dan penghasilan mereka sangat berkurang?
Dan
ternyata hal tersebut memang betul yang terjadi di mereka.
Ada seseorang
yang pekerja informal dulunya kerja jadi CS untuk di salah satu hotel di Jkt
dan selama COVID-19 ini dia harus diberhentikan dan banting stir menjadi “silverman”
yang biasa di pinggiran kota Jakarta;
Ada
juga seseorang yang dulunya bekerja untuk aplikasi “si hijau” yang ternyata
mereka menutup lini bisnis cleaning
nya membuat mereka kesulitan untuk bisa mendapatkan order.
Karena
itu, istri gw @vanessajacobus melihat kalau kita perlu melakukan sesuatu buat
mereka dengan kita membuat @jasabersihbersih.jakarta
Konsepnya
simple, kita mencoba menghubungkan
teman2 yang membutuhkan jasa untuk membersihkan kos/apartemen/rumah/ruko/kantor
nya ke Cleaners yang sudah memiliki experienced in cleaning industry.
Dengan
teman2 menggunakan jasa bersih-bersih, kita ngga cuma bisa membantu orang lain
yang terkena dampak COVID-19 saja, tetapi teman2 juga akan mendapatkan jasa
layanan kebersihan yang sudah ngga diragukan lagi kualitasnya.
Kalau
dibandingkan, @jasabersihbersih.jakarta memiliki beberapa keunggulan dibandingkan
dengan menggunakan jasa Asisten Rumah Tangga (ART).
COVID-19 (Corona Virus Disease
2019) adalah suatu Virus yang menyerang saluran pernafasan. Pertama kali
ditemukan di Tiongkok pada akhir tahun 2019. Hal ini mengakibatkan Perekonomian
Tiongkok di awal tahun 2020 menjadi melambat. Kota Wuhan adalah epicentrum
pertumbuhan COVID-19. Kota Wuhan memberlakukan lockdown di kotanya.
Tiongkok membangun secara cepat rumah sakit untuk menangani kasus-kasus
COVID-19. Pada akhirnya, strategi lockdown yang diberlakukan Tiongkok
bisa berhasil. Pasien COVID-19 banyak yang berhasil disembuhkan dan pada
akhirnya Tiongkok berhasil terbebas dari COVID-19.
Penyebaran COVID-19 ternyata
meluas sampai keluar Negara Tiongkok, tak terkecuali Indonesia. Beberapa kali
sebetulnya Indonesia terlalu “jumawa” akan keamanan di dalam negeri. Dengan
pertumbuhan ekonomi yang menurun di Tiongkok, berperan besar dalam perekonomian
Indonesia. Pada saat itu yang pertama kali terpikir adalah industri pariwisata,
dimana banyak wisatawan Tiongkok yang berlibur di Indonesia seperti di Bali,
Manado, Raja Ampat dan tempat pariwisata lain. Hal ini mendorong pemerintah
mengeluarkan sebuah kebijakan subsidi maskapai di Indonesia. Dengan tujuan
menurunkan harga tiket atau disubsidi oleh Pemerintah bertujuan untuk
meningkatkan masyarakat yang berpergian agar perekonomian khususnya dari
pariwisata tidak mengalami “shock” yang sangat besar. Padahal dengan
penerapan strategi ini, akan meningkatkan frekuensi perpindahan orang baik dari
dalam maupun luar negeri yang berpotensi menambah peluang masuknya COVID-19 di
Indonesia.
Kasus pertama COVID-19 terjadi
pada akhir Februari 2020. Kasus pasien positifnya terus bertambah sampai dengan
di 10 April 2020 yang telah mencapai 3.000 ++ penderita. Dari minggu kedua
Maret 2020, Pemerintah telah menerapkan kampanye social distancing yang
selanjutnya diubah menjadi physical distancing. Implementasi dari
kebijakan ini adalah masyarakat diminta untuk terus meminimalkan kontak yang
melibatkan banyak orang. Penerapan implementasinya berimplikasi sangat banyak
dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari Work From Home (WFH), larangan
beribadat seperti ditiadakannya beribadat di Gereja tiap hari Minggu dan Sholat
Jumat di Masjid, Pusat perbelanjaan didorong untuk menutup usahanya, dan masih
banyak dampak-dampak lainnya.
Dalam catatan hari ini, saya ingin
berbagi cerita mengenai dampak dari COVID-19 dalam segala aspek. Catatan ini
saya buat disaat waktu luang saya selama menjalani WFH di masa COVID-19.
I.Catatan Religius
Pertama yang ingin saya bagikan
adalah tentang beribadah. Pernah ngga sih terbayangkan tentang Perayaan
Ekaristi yang diikuti secara online? Selama ini saya belum pernah
membayangkannya dan ternyata COVID-19 membuat hal ini bisa terjadi. Gereja
berlomba-lomba untuk membuat saluran melalui Facebook atau Youtube
agar para umat dapat mengikuti kegiatan Perayaan Ekaristi secara online.
Perasaan saya pada saat pertama kali merasakan misa online sangat bercampur
aduk, tetapi yang mendominasi adalah kerinduan saya untuk bisa beribadat di
Gereja kembali. Memang benar kalau ada kata orang kita akan merindukan sesuatu
saat telah kehilangan.
Puncak perasaan kesedihan saya
adalah pada saat Perayaan Ekaristi di tanggal 5 April 2020 yang merupakan
Perayaan Minggu Palma. Jika membayangkan Minggu Palma pada umumnya, akan ada
kemeriahan untuk menyambut Tuhan Yesus dengan Daun Palma di tangan. Namun yang
terjadi pada saat misa tersebut adalah kita hanya di depan layar gadget kita
dengan memegang daun palma. Tidak ada sorak-sorai hanya nyanyian kita saja
selama Perayaan Ekaristi. Lalu pemikiran ego saya keluar dan berpikir di dalam
hati. “Apakah pantas Tuhan disambut dengan kondisi seperti ini? Dengan
penyambutan secara virtual yang tidak tampak kegembiraan dalam menyambut
Sang Raja?” Pemikiran-pemikiran itu membuat saya terdiam dan berpikir dalam
kegalauan.
Bersyukur pada saat homili saya
mendapatkan jawabannya. Dalam Homili yang disampaikan oleh Romo Andang, SJ,
beliau menyampaikan tentang alasan menjadi Kristiani. Ada orang yang ingin
menjadi Kristiani karena memperoleh jabatan atau uang atau kekuasaan. Tentu
saja ini tidak berlaku untuk saya. Selanjutnya ada orang yang ingin menjadi
Kristiani karena kemegahan/kemewahan. Jika hal ini menjadi alasan kita menjadi
Kristiani maka misa online yang saat ini sedang diterapkan menjadi hal
yang bermasalah. Ini sangat cocok sekali dengan saya. Saya memandang kemewahan
dan kemegahan dalam perayaan Ekaristi. Padahal dalam menemukan Tuhan kita tidak
perlu untuk berada dalam kemewahan dan kemegahan perayaan Ekaristi karena
jawabannya ada di dalam hati kita masing-masing. Hal ini membuat saya seperti
tertampar, bahwa selama perayaan online ini, saya terlalu memikirkan
kemegahan dari sebuah perayaan tidak memikirkan bahwa kunci dari segala yang
saya lakukan ada di dalam hati ini. Alasan untuk menjadi Kristiani yang baik
adalah sadar bahwa dengan menjadi Kristiani dapat menjadi pembuka jalan untuk
hubungan yang baik dengan Allah. Ya, alasan yang ketiga lah seharusnya yang ada
dalam jiwa setiap orang, sehingga di masa-masa yang sulit ini kita bisa menjadi
pembuka jalan dengan berbuat kebaikan bagi para sesama.
II.Catatan Ekonomi
Selanjutnya hal yang menjadi
pemikiran saya selama COVID-19 adalah dampak pada perekonomian. Dalam pekerjaan
saya saat ini memang kami didorong untuk bisa peka pada perekonomian. Proyeksi
pertumbuhan ekonomi Indonesia telah dipangkas menjadi 4,2%-4,6% dari yang sebelumnya
5,2%. Bahkan dalam what-if scenario yang telah dibuat oleh Kementrian
Keuangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai -0,1%. Memang jika
membayangkan dampak ekonomi secara makro dari dampak COVID-19 ini sangat parah.
Jika kita mencoba untuk mengurutkan
caseper case dimana di Awal Tahun 2020 perekonomian Tiongkok
loyo. Manufaktur tidak bisa berproduksi dengan normal karena diberlakukan social
distancing. Hal ini berpotensi pada manufaktur dalam negeri yang
mendapatkan supply barang dari Tiongkok. Dapat menyebabkan terhambatnya
produksi karena kekurangan parts yang diproduksi. Selanjuntya setelah
dari Tiongkok, Indonesia yang memberlakukan social distancing. Hal ini
mengakibatkan industri manufaktur menjadi mengurangi kapasitas produksinya.
Sulit untuk membayangkan berapa besar kerugian manufaktur karena pengurangan
kapasitas produksi ini. Jika dulu saya sempat menghitung biaya recovery
dari sebuah kasus linestop di perusahaan otomotif yang mencapai ratusan
juta per menit nya, maka sudah dipastikan kerugian karena pengurangan kapasitas
ini bisa mencapai ratusan miliar bahkan triliun rupiah.
Pada tanggal 10 April 2020, DKI Jakarta
telah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dimana hanya
beberapa perusahaan saja yang boleh buka, tidak boleh ada kerumunan lebih dari
5 orang, ojek online dilarang untuk mengangkut penumpang, restoran tidak
boleh menyediakan makan di tempat, hanya industri tertentu saja yang boleh
beroperasi, dll. Dapat dipastikan bahwa roda perekonomian di Jakarta yang juga
merupakan pusat perekonomian di Indonesia menjadi collaps.
Dampak COVID-19 tidak hanya terasa
di Jakarta, di luar Jakarta, pada sektor pariwisata sangat terkena dampak
COVID-19 ini. Hotel-hotel telah banyak yang ditutup. Banyak Hotel, restoran dan
tempat hiburan yang telah merumahkan pegawai nya, baik yang dirumahkan dengan
PHK maupun yang dirumahkan tanpa mendapat upah.
Dalam kondisi saat ini jika kita
membayangkan kondisi masyarakat yang berpendapatan rendah pasti sangat tersiksa.
Biasanya mengandalkan uang harian untuk bisa mencukupi hidup sehari-hari namun
saat ini tidak bisa bekerja. Tidak memiliki tabungan namun kehidupan harus
terus berjalan. Oleh karena itu, ada baiknya kita bisa saling membantu khususnya
kepada orang-orang yang tidak seberuntung kita.
III.Catatan Pembelajaran
Menurut saya ada beberapa hal penting
yang bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk kedepannya dari kondisi COVID-19
ini:
1.Berdoa dan Memuliakan nama Tuhan lebih dari
sekedar tempat beribadah. Mungkin dulu kita berpikir bahwa berdoa di tempat
beribadah adalah segalanya. Dari COVID-19 ini mengajarkan kita bahwa beribadah
bukan tentang segala fasilitas yang ada di rumah ibadah, tetapi dari ketenangan
hati kita yang terdalam untuk menemukan Tuhan dan berkomunikasi dengan Nya.
2.Kesehatan adalah hal utama. Dalam kondisi wabah
seperti ini, mau tidak mau yang menjadi hal utama untuk diselamatkan adalah
kesehatan. Himbauan pemerintah untuk #StayAtHome dan pemberlakuan PSBB,
menunjukkan bahwa kesehatan adalah hal yang paling penting sementara kondisi
perekonomian kita pikirkan agar dampaknya dapat seminimal mungkin.
3.PENTING! Untuk memiliki Dana Darurat. Dalam
kondisi saat ini terdapat banyak sekali ketidakpastian. Yang tadinya memiliki pekerjaan
layak, bisa tiba-tiba dirumahkan. Yang tadinya bisnis telah berjalan dengan
lancar, tiba-tiba tidak ada satupun pembeli yang datang. Menurut saya, konsep
dana darurat harus kita terapkan baik dalam keluarga maupun dalam bisnis. Agar
dalam kondisi saat ini, kita tidak perlu bingung untuk memikirkan kondisi
keuangan.
4.Kita tidak hidup sendiri di dunia ini, jadi mari
kita saling membantu kepada seluruh umat manusia. Ayo kita bantu
pedagang-pedagang kecil dengan membeli jajanannya, menggunakan jasa ojek
online, dan berdonasi bagi sesama agar kita dapat meringankan beban mereka.
IV.Mari Berdoa Bersama-sama
Marilah kita bersama-sama doakan,
untuk Bangsa kita agar bisa mengatasi COVID-19 ini dengan baik. Salah satu lagu
favorit saya dalam masa-masa saat ini adalah “Doa Kami-True Worshippers”.
Kurang lebih kutipan lirik yang saya yakini dalam part ini. “Bagi Bangsa ini,
kami berdiri dan membawa doa kami kepadaMu”; saya yakin bahwa seluruh
masyarakat di Indonesia tidak berhenti untuk mendoakan negeri kami. “Sesuatu
yang besar, pasti terjadi dan mengubahkan Negeri kami”; saya yakini juga bahwa
Tuhan memiliki rencana indah bagi Indonesia dan akan mengubahkan kami untuk
menjadi semakin maju dan semakin dekat dengan Tuhan.
Untuk itu, jangan lupa untuk kita
selalu mendoakan untuk para pemimpin bangsa ini, dari Bapak Presiden dan Wakil
Presiden, Ibu Menteri Keuangan, Bapak Gubernur BI, Bapak Komisioner OJK, Bapak
Menteri Kesehatan, dan seluruh jajaran Gubernur, Walikota dan Bupati agar
selalu diberikan hikmat kebijaksanaan dalam membuat kebijakan selama menangani
COVID-19 ini. Kita juga terus berdoa untuk para tim medis yang telah mendedikasikan
diri untuk penanganan COVID-19. Kita berdoa untuk para ilmuwan, agar dapat dengan
segera menemukan vaksin COVID-19. Tidak lupa juga kita terus berdoa bagi
masyarakat yang khususnya terdampak, baik yang berperan sebagai pengusaha, masyarakat
berpenghasilan rendah dan pegawai. Kita berdoa agar kita semua dapat melewati
situasi yang sulit ini, agar segala nya dapat berjalan dengan lancar.
Udah lama ngga update tulisan di Blog.
Terakhir update tulisan untuk lomba karya tulis di TMMIN dan ternyata gagal menang.
Itu update terakhir tahun 2016, that's mean pas gue masi kuliah (sebelom lulus2an).
Yup, setelah gue lulus kuliah, gw lanjut kerja untuk masuk di Astra Group. Bermodal dengan scholarship dari Astra1st, dan dilanjutkan 3x proses interview + MCU, akhirnya gue masuk sebagai Supervisor Cost Control di PT. Astra Daihatsu Motor.
Tapi kali ini (setelah sekian lama vakum dari duni perblog-an) gue ngga mau cerita tentang proses seleksi di ADM, melainkan seleksi PCPM.
Jadi sebenernya buat daftar disini, gue cukup iseng-iseng berhadiah (ditambah sedikit ngarep) untuk bisa lulus seleksi.
Kenapa gue sedikit ngarep di PCPM? Ya karena istilahnya PCPM itu MT nya Bank Indonesia. Jadi kita akan dikader untuk menjadi calon-calon pemimpin Bank Indonesia kedepannya. Start posisi jabatannya adalah Asisten Manager, jadi ya ngga mulai dari kutu-kupret2 (istilah gue sama temen) banget lah.
Untuk tahun ini, sebagai Vendor untuk proses seleksi nya pakai Experd Consultant. Buat info nya, teman-teman bisa cek di pcpmbi.experd.com .
Secara singkat, setelah upload kelengkapan administrasi, proses seleksi nya ada 5 tahap :
Tes Potensi Dasar
Tes Kebanksentralan, Test Pengetahuan Sektoral / Ekonomi saat ini, dan ada test TOEFL juga
Tes Psikologi tertulis, wawancara psikolog dan LGD
Tes Kesehatan + Psikiatri
Tes Seleksi Wawancara Akhir
Kurang lebih jarak antar test nya itu 2 minggu.
Gue sampe saat ini (29 Desember 2018), masih nunggu pengumuman di Tes Tahap 5. (Mohon doa nya ya biar bisa dapet hasil yang terbaik).
Kita mulai ya, bahas proses seleksi nya satu per satu.
Mulai dari seleksi administrasi. Untuk persyaratan nya, teman-teman bisa liat dibawah ini
Jadi buat temen-teman yang memenuhi kualifikasi diatas, silahkan daftar aja.
Seleksi Tahap 0 : Seleksi Administrasi
Untuk Data Diri nya standard kayak kalau teman-teman mau daftar ke perusahaan lain.
Ya seperti identitas diri, tujuan karir yang mau dicapai, alasan kenapa mau pindah dari perusahaan lama ke BI, Pendidikan terakhir, Pekerjaan terakhir, Pengalaman sukses, Pengalaman organisasi, Pelatihan, Bahasa, Referensi (atasan di perusahaan sebelum / referensi di BI), Penghargaan, etc.
Terus teman-teman juga diminta untuk daftar ke bagian perminatan nya. (INGAT : Cuma bisa daftar 1 pilihan perminatan aja! - Pas gue daftar kirain bisa daftar ke beberapa posisi, jadi gue terlanjur daftar di Manajemen Strategis). Gue ngga tau, apakah yang memenuhi persyaratan 100% lolos, atau mereka ada kuota berapa persen terbaik yang lolos ke tahap berikutnya.
Setelah tahap administrasi lolos, maka dimulai lah proses seleksi yang panjang. (FYI: untuk proses seleksi nya dilakukan di Sabtu - Minggu, jadi teman-teman yang masih kerja di perusahaan sekarang ngga usah khawatir, kecuali untuk seleksi test tahap V - Wawancara akhir, itu dihari kerja).
Seleksi 1 : Test Potensi Dasar
Di Test Potensi Dasar ini, kurang lebih memakan waktu test sekitar 2-3 jam.
Diawali sama test yang bikin shock, jadi kita dikasi waktu 1 menit untuk ngehafal 20 lambang, terus di sheet berikutnya kita disuruh tulis urutan lambang-lambangnya. Dan gue cuma bisa ngejawab 7 aja dan ga yakin bener. (Dalam hati : mati gue, pe'a banget).
Terus lanjutan test nya standard lah, kayak deret angka, terus dimensi 3, dll.
Ya karena diawali dengan test yang gue ngga bisa, jadi hopeless banget. Ga bakal lolos deh gue.
Tapi Puji Tuhan, ternyata setelah nunggu 10 hari, diumumkan kalau gue lolos.
Seleksi 2 : Test Kebanksentralan dan TOEFL.
Jadi buat di test ini teman-teman musti well prepared banget deh. Pelajarin dari web BI : bi.go.id , juga sebenernya uda cukup. Pertanyaan nya ya kurang lebih kayak IDR / USD di nilai tukar maksudnya apa? terus nama-nama Gubernur BI? Isu ekonomi dunia kayak perang dagang? Terus logic-logic ekonomi kayak kalau uang banyak beredar impact nya apa? Peran BI vs Peran OJK? terus tentang GPN, ekonomi syariah, etc. Pertanyaan bersifat umum sebenernya, jadi teman-teman mending lebih banyak baca dibanding banyak menghafal nya.
Terus test kedua TOEFL. Nah di test TOEFL ini kayak test-test di tempat lain, dibagi jadi 3 : Listening, Reading sama Grammar. Ya kalau TOEFL nya uda diatas 500, pasti bisa lah.
Dan Puji Tuhan, gue kembali lolos di tahap 2 ini. Padahal gue ngrasa kalau Inggris gue pas-pasan banget, terakhir test dari kampus, ngga sampe 500 coy (ini AIB sih).
Seleksi 3 : Test Psikologi Tertulis, Wawancara Psikolog dan LGD.
Di Test Psikologi tertulis, nanti ada ratusan soal, yg kita pilih, mana yang paling sesuai dengan kepribadian teman-teman (ya ini jujur aja sama diri sendiri) sama ada case-case yang musti teman-teman tentuin, siapa yang bener (ini lebih mengarah ke value teman-teman sih), contoh case soalnya : ada penyakit yang baru aja ditemuin dokter dan sudah dipatenkan sehingga harga nya jadi mahal banget, teman-teman disuruh milih lebih pilih pertahankan paten dokter atau pasien yang kurang mampu boleh mencuri untuk mengobati anak nya yang sakit?.
Terus ada juga test gambar pohon, teman-teman bisa liat tips and trick nya di google, kalau gambar pohon yang bagus itu seperti apa (Disini gue gambar pohon jati) dan yang terakhir gambar orang (disini gue gambar Direktur gue, Pak Erlan Krisnaring - Contoh real Servant Leadership di Dunia Kerja).
Ditengah test, beberapa akan disuruh keluar untuk LGD (Leaderless Group Discussion).
Gue mendapatkan kasus tentang perbankan yang budget untuk OPEX nya diturunkan, terus kita berperan sebagai Leader dari divisi-divisi yang berbeda dan kita diminta agar proposal kita yang diterima.
Sebenernya ditahap ini gue melakukan kesalahan fatal yang tidak fatal sih.
Jadi dimeja kita ada case besaran nya, terus gue ga nyadar kalau itu ada dua halaman dan di halaman kedua itu ditentuin kita akan berperan sebagai apa.
Jadilah kekacauan dimulai, gue ngomong pertama kali dan dengan PD nya gue mengajukan proposal untuk mengadakan : "PESTA RAKYAT". dan setelah gue liat lagi peran gue apa, ternyata gue jadi orang dari DIVISI GA, yang disuruh menggoalkan proposal "RENOVASI GEDUNG". Jadilah gue ngga fokus.
Setelah itu dilanjutkan sama Interview Psikolog. Diinterview psikolog kita akan ditanyakan tentang kehidupan kita, keberhasilan, kegagalan, dll. Inti nya disitu kita harus bisa menjual value yang ada dalam diri kita aja. Jangan lupa juga kalau mau menjelaskan sesuatu dengan metode STAR (Situation, Task, Action, Result). Jadi kalau ada pertanyaan, kita menjelaskan runtut, situasi permasalahan seperti apa, tugas kita apa, lalu yang kita lakukan apa dan hasilnya bagaimana. Sehingga interviewer tau effort kita terhadap masalah tersebut seperti apa.
Dengan kepe'a-an gue di LGD, kembali agak hopeless lagi untuk seleksi di tahap ini. Yauda deh, mungkin keberuntungan gue habis disini. Puji Tuhan nya, gue masih lulus lagi di tahap ini. Memang kuasa Tuhan selalu ada di setiap kehidupan gue.
Seleksi 4 : Test Kesehatan + Psikiatri
Lanjut ke Seleksi Tahap 4. Di tahap ini dibagi jadi 2 hari, kebetulan gue dapat Tes Kesehatan di Hari Sabtu dan Psikiatri di Hari Minggu.
Untuk Tes Kesehatan, teman-teman diminta untuk puasa dulu dari satu malam sebelumnya. Tes kesehatannya komplit banget.
Gue pertama test antropometri tubuh - mengukur berat badan dan tinggi badan. Dilanjutkan test mata, minus nya berapa, terus test darah pertama (sebelum makan).
Setelah test darah pertama lanjut ke sarapan dan dilanjutkan lagi sama test jantung dan rontgen terus test darah tahap kedua.
Test kesehatan terakhir yang jackpot nya itu Kesehatan Umum, sama dokter Umum.
Jadi sama dokter umum nya itu kita diperiksa dari ujung rambut sampe ujung kaki. Mulai dari kefokusan mata, rongga hidung dan telinga, mulut dan amandel. Terus di badan di test denyut nadi, detak jantung, ulu hati. Yang paling jackpot sih test bagian bawah badan. Ada test hernia, jadi dipegang-pegang sama dokter nya (mana cewek lagi dokternya), terus yang bikin jackpot adalah test ambeien. Jadi Si Ibu Dokternya ngemasukin jari nya ke lobang anus kita dan dia periksa apa ada ambeien nya atau ngga. Itu rasanya sih jackpot banget dan jadi berpikir, apa enaknya jadi gay -_-
Ya kurang lebih dateng jam 7 pagi, baru selesai jam 2 siang. Lumayan melelahkan karena lama nunggu nya.
Untuk seleksi di hari kedua (Test Psikiatri), ini kurang lebih buat ngecek, kejiwaan kita waras apa ngga. Kurang lebih ada 300-400an pertanyaan, seputar diri kita. Kayak pertanyaan nya : kita sering gelisah (terus dikasih skala apakah sangat iya atau sangat tidak). Tapi ya seperti biasa, jawab aja sejujur-jujurnya daripada hasil test nya ngga valid dan berujung jadi ngga lulus kan.
Puji Tuhan lagi, seleksi Tahap IV sukses!
Seleksi Tahap 5 : Wawancara Akhir
Wawancara akhir ini tahap yang paling mendebarkan sih, jadi kita dikasih jadwal interview nya H-2 sebelum proses seleksi nya. Saran sih, coba cari referensi dari blog-blog lain tentang pengalaman interview mereka. Ini cukup sangat membantu ya.
Jadi yang gue lakukan untuk persiapan interview ini adalah gue banyak-banyak baca buku dan baca berita ekonomi terkini.
Karena basic nya gue adalah teknik industri yang kurang mengetahui tentang kondisi ekonomi, gue mendapat referensi bacaan buku judul nya: Ekonom Kaki Lima - Penulis : Hwa. Katili.
Inti nya dibuku itu dijelasin tentang prinsip-prinsip dasar ekonomi, kasus-kasus ekonomi di Indonesia dan dunia, dalam bahasa 'warung kopi' yang mudah dimengerti sama orang awam.
Selain itu gue juga belajar juga dari video bagus di youtube, teman-teman bisa liat dibawah ini mengenai gimana ekonomi itu bisa berjalan.
Dan yang terakhir tetap mempelajari web BI. Pelajari wewenang, peran dan tanggung jawabnya. Terus pelajarin juga Divisi yang kita daftarin, tugas-tugas nya apa, planning yang bisa kita lakukan kalau kita ada disana mau buat inovasi apa.
Pas hari interview, kita registrasi jam 7.30 pagi, di gedung Bank Indonesia. Pas itu kurang lebih ada 40-50an peserta. Setelah registrasi, kita dibagi ke beberapa ruangan (mungkin sesuai dengan divisi yang dipilih ya), akhirnya grup gue berisi 8 orang (8 orang : 4 ITB, 2 UGM, 1 UI dan 1 UB). Jadi semua nya lulusan dari Top 4 PTN di Indonesia (Bentar lagi gue diprotes nih, karena UB belum masuk Top 4 PTN).
Inti nya dipanggil nya acak, dan kebetulan ternyata gue interview yang paling akhir. Teman-teman bisa bayangkan betapa gabut nya gue dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore hanya untuk menunggu waktu interview. Tapi dari situ gue bisa liat mimik setiap peserta yang keluar dari ruang interview sih, rata-rata cukup menunjukkan mimik yang pusing-stress.
Peserta akan diinterview oleh 3 orang interviewee.
Orang pertama adalah Kepala BI cabang Jawa-Bali, orang kedua adalah Direktur Manajemen Strategis BI, orang ketiga adalah Kepala HR di BI.
Jadi ya ketiga orang tersebut merupakan orang yang sudah punya posisi di BI.
Langsung ke proses interview nya ya.
Diinterview pertama, kita ditanya-tanya mengenai background kita. Ya intinya kita tinggal menjelaskan sesuai dengan data diri kita di CV yang sudah kita kumpulkan. (Oh iya, interviewee sudah mendapatkan CV kita dari beberapa hari sebelumnya, jadi mereka sudah mempelajari tentang profile kita, usahakan yang kita jawab sinkron dengan yang ditulis).
Sesudah background kita akan digali dalam tentang motivasi kita untuk kerja di Bank Indonesia, kenapa harus kerja di Bank Indonesia sedangkan di Astra sudah sangat bagus? Apa aja sih yang bisa kamu lakukan di Bank Indonesia untuk jadi lebih baik lagi? (Semua pertanyaan ini ditanya langsung sama yang Direktur Manajemen Strategis nya).
Setelah ditanya tentang profile diri kita ditanya-tanya tentang pengetahuan ekonomi dan pengetahuan BI sama Bapak Kepala HR. Inti nya disitu dia mau ngeliat, seberapa interest sih kita untuk bergabung di BI. Pertanyaan nya kayak, sekarang lagi ada isu ekonomi di dunia itu apa? Kenapa isu ekonomi dunia itu sangat berpengaruh ke ekonomi Indonesia? Terus apa sih sinergi antara Bank Indonesia dengan Pemerintah? Biar ekonomi Indonesia kuat gimana caranya? Gimana biar neraca ekonomi Indonesia ngga negatif? -Mayoritas jawaban ada di buku yang Ekonom Kaki Lima dan Website BI, jadi yang gue pelajarin berhari-hari ngga sia-sia deh- :D
Lanjut lagi pertanyaan dari Interviewee yang ketiga (Kepala BI Jawa-Bali), dari dia pertanyaan nya berkaitan dengan pekerjaan kita sekarang. Kayak, apa sih peran kita di kerjaan? Terus pertumbuhan industri yang kita lakuin sekarang kedepannya bagaimana? dan seterusnya.
Kalau uda di dalem sih, waktu interview ngga kerasa, tiba-tiba sudah hampir 1 jam ditanya-tanya.
Kira-kira begitu proses seleksi di Bank Indonesia yang gue jalanin di tahun 2018 ini.
Sekarang gue masih proses untuk menunggu hasil seleksi yang katanya akan diumumin di Bulan Desember ini. Mohon doa nya ya, karena sekarang porsi iseng-iseng berhadiah nya sudah hilang berganti dengan porsi ngarepp diterima.
Kalau ada yang mau ditanyakan silahkan, nanti gue coba jawab sebisa gue.