COVID-19 (Corona Virus Disease
2019) adalah suatu Virus yang menyerang saluran pernafasan. Pertama kali
ditemukan di Tiongkok pada akhir tahun 2019. Hal ini mengakibatkan Perekonomian
Tiongkok di awal tahun 2020 menjadi melambat. Kota Wuhan adalah epicentrum
pertumbuhan COVID-19. Kota Wuhan memberlakukan lockdown di kotanya.
Tiongkok membangun secara cepat rumah sakit untuk menangani kasus-kasus
COVID-19. Pada akhirnya, strategi lockdown yang diberlakukan Tiongkok
bisa berhasil. Pasien COVID-19 banyak yang berhasil disembuhkan dan pada
akhirnya Tiongkok berhasil terbebas dari COVID-19.
Penyebaran COVID-19 ternyata
meluas sampai keluar Negara Tiongkok, tak terkecuali Indonesia. Beberapa kali
sebetulnya Indonesia terlalu “jumawa” akan keamanan di dalam negeri. Dengan
pertumbuhan ekonomi yang menurun di Tiongkok, berperan besar dalam perekonomian
Indonesia. Pada saat itu yang pertama kali terpikir adalah industri pariwisata,
dimana banyak wisatawan Tiongkok yang berlibur di Indonesia seperti di Bali,
Manado, Raja Ampat dan tempat pariwisata lain. Hal ini mendorong pemerintah
mengeluarkan sebuah kebijakan subsidi maskapai di Indonesia. Dengan tujuan
menurunkan harga tiket atau disubsidi oleh Pemerintah bertujuan untuk
meningkatkan masyarakat yang berpergian agar perekonomian khususnya dari
pariwisata tidak mengalami “shock” yang sangat besar. Padahal dengan
penerapan strategi ini, akan meningkatkan frekuensi perpindahan orang baik dari
dalam maupun luar negeri yang berpotensi menambah peluang masuknya COVID-19 di
Indonesia.
Kasus pertama COVID-19 terjadi
pada akhir Februari 2020. Kasus pasien positifnya terus bertambah sampai dengan
di 10 April 2020 yang telah mencapai 3.000 ++ penderita. Dari minggu kedua
Maret 2020, Pemerintah telah menerapkan kampanye social distancing yang
selanjutnya diubah menjadi physical distancing. Implementasi dari
kebijakan ini adalah masyarakat diminta untuk terus meminimalkan kontak yang
melibatkan banyak orang. Penerapan implementasinya berimplikasi sangat banyak
dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari Work From Home (WFH), larangan
beribadat seperti ditiadakannya beribadat di Gereja tiap hari Minggu dan Sholat
Jumat di Masjid, Pusat perbelanjaan didorong untuk menutup usahanya, dan masih
banyak dampak-dampak lainnya.
Dalam catatan hari ini, saya ingin
berbagi cerita mengenai dampak dari COVID-19 dalam segala aspek. Catatan ini
saya buat disaat waktu luang saya selama menjalani WFH di masa COVID-19.
I.
Catatan Religius
Pertama yang ingin saya bagikan
adalah tentang beribadah. Pernah ngga sih terbayangkan tentang Perayaan
Ekaristi yang diikuti secara online? Selama ini saya belum pernah
membayangkannya dan ternyata COVID-19 membuat hal ini bisa terjadi. Gereja
berlomba-lomba untuk membuat saluran melalui Facebook atau Youtube
agar para umat dapat mengikuti kegiatan Perayaan Ekaristi secara online.
Perasaan saya pada saat pertama kali merasakan misa online sangat bercampur
aduk, tetapi yang mendominasi adalah kerinduan saya untuk bisa beribadat di
Gereja kembali. Memang benar kalau ada kata orang kita akan merindukan sesuatu
saat telah kehilangan.
Puncak perasaan kesedihan saya
adalah pada saat Perayaan Ekaristi di tanggal 5 April 2020 yang merupakan
Perayaan Minggu Palma. Jika membayangkan Minggu Palma pada umumnya, akan ada
kemeriahan untuk menyambut Tuhan Yesus dengan Daun Palma di tangan. Namun yang
terjadi pada saat misa tersebut adalah kita hanya di depan layar gadget kita
dengan memegang daun palma. Tidak ada sorak-sorai hanya nyanyian kita saja
selama Perayaan Ekaristi. Lalu pemikiran ego saya keluar dan berpikir di dalam
hati. “Apakah pantas Tuhan disambut dengan kondisi seperti ini? Dengan
penyambutan secara virtual yang tidak tampak kegembiraan dalam menyambut
Sang Raja?” Pemikiran-pemikiran itu membuat saya terdiam dan berpikir dalam
kegalauan.
Bersyukur pada saat homili saya
mendapatkan jawabannya. Dalam Homili yang disampaikan oleh Romo Andang, SJ,
beliau menyampaikan tentang alasan menjadi Kristiani. Ada orang yang ingin
menjadi Kristiani karena memperoleh jabatan atau uang atau kekuasaan. Tentu
saja ini tidak berlaku untuk saya. Selanjutnya ada orang yang ingin menjadi
Kristiani karena kemegahan/kemewahan. Jika hal ini menjadi alasan kita menjadi
Kristiani maka misa online yang saat ini sedang diterapkan menjadi hal
yang bermasalah. Ini sangat cocok sekali dengan saya. Saya memandang kemewahan
dan kemegahan dalam perayaan Ekaristi. Padahal dalam menemukan Tuhan kita tidak
perlu untuk berada dalam kemewahan dan kemegahan perayaan Ekaristi karena
jawabannya ada di dalam hati kita masing-masing. Hal ini membuat saya seperti
tertampar, bahwa selama perayaan online ini, saya terlalu memikirkan
kemegahan dari sebuah perayaan tidak memikirkan bahwa kunci dari segala yang
saya lakukan ada di dalam hati ini. Alasan untuk menjadi Kristiani yang baik
adalah sadar bahwa dengan menjadi Kristiani dapat menjadi pembuka jalan untuk
hubungan yang baik dengan Allah. Ya, alasan yang ketiga lah seharusnya yang ada
dalam jiwa setiap orang, sehingga di masa-masa yang sulit ini kita bisa menjadi
pembuka jalan dengan berbuat kebaikan bagi para sesama.
II.
Catatan Ekonomi
Selanjutnya hal yang menjadi
pemikiran saya selama COVID-19 adalah dampak pada perekonomian. Dalam pekerjaan
saya saat ini memang kami didorong untuk bisa peka pada perekonomian. Proyeksi
pertumbuhan ekonomi Indonesia telah dipangkas menjadi 4,2%-4,6% dari yang sebelumnya
5,2%. Bahkan dalam what-if scenario yang telah dibuat oleh Kementrian
Keuangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai -0,1%. Memang jika
membayangkan dampak ekonomi secara makro dari dampak COVID-19 ini sangat parah.
Jika kita mencoba untuk mengurutkan
case per case dimana di Awal Tahun 2020 perekonomian Tiongkok
loyo. Manufaktur tidak bisa berproduksi dengan normal karena diberlakukan social
distancing. Hal ini berpotensi pada manufaktur dalam negeri yang
mendapatkan supply barang dari Tiongkok. Dapat menyebabkan terhambatnya
produksi karena kekurangan parts yang diproduksi. Selanjuntya setelah
dari Tiongkok, Indonesia yang memberlakukan social distancing. Hal ini
mengakibatkan industri manufaktur menjadi mengurangi kapasitas produksinya.
Sulit untuk membayangkan berapa besar kerugian manufaktur karena pengurangan
kapasitas produksi ini. Jika dulu saya sempat menghitung biaya recovery
dari sebuah kasus linestop di perusahaan otomotif yang mencapai ratusan
juta per menit nya, maka sudah dipastikan kerugian karena pengurangan kapasitas
ini bisa mencapai ratusan miliar bahkan triliun rupiah.
Pada tanggal 10 April 2020, DKI Jakarta
telah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dimana hanya
beberapa perusahaan saja yang boleh buka, tidak boleh ada kerumunan lebih dari
5 orang, ojek online dilarang untuk mengangkut penumpang, restoran tidak
boleh menyediakan makan di tempat, hanya industri tertentu saja yang boleh
beroperasi, dll. Dapat dipastikan bahwa roda perekonomian di Jakarta yang juga
merupakan pusat perekonomian di Indonesia menjadi collaps.
Dampak COVID-19 tidak hanya terasa
di Jakarta, di luar Jakarta, pada sektor pariwisata sangat terkena dampak
COVID-19 ini. Hotel-hotel telah banyak yang ditutup. Banyak Hotel, restoran dan
tempat hiburan yang telah merumahkan pegawai nya, baik yang dirumahkan dengan
PHK maupun yang dirumahkan tanpa mendapat upah.
Dalam kondisi saat ini jika kita
membayangkan kondisi masyarakat yang berpendapatan rendah pasti sangat tersiksa.
Biasanya mengandalkan uang harian untuk bisa mencukupi hidup sehari-hari namun
saat ini tidak bisa bekerja. Tidak memiliki tabungan namun kehidupan harus
terus berjalan. Oleh karena itu, ada baiknya kita bisa saling membantu khususnya
kepada orang-orang yang tidak seberuntung kita.
III.
Catatan Pembelajaran
Menurut saya ada beberapa hal penting
yang bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk kedepannya dari kondisi COVID-19
ini:
1.
Berdoa dan Memuliakan nama Tuhan lebih dari
sekedar tempat beribadah. Mungkin dulu kita berpikir bahwa berdoa di tempat
beribadah adalah segalanya. Dari COVID-19 ini mengajarkan kita bahwa beribadah
bukan tentang segala fasilitas yang ada di rumah ibadah, tetapi dari ketenangan
hati kita yang terdalam untuk menemukan Tuhan dan berkomunikasi dengan Nya.
2.
Kesehatan adalah hal utama. Dalam kondisi wabah
seperti ini, mau tidak mau yang menjadi hal utama untuk diselamatkan adalah
kesehatan. Himbauan pemerintah untuk #StayAtHome dan pemberlakuan PSBB,
menunjukkan bahwa kesehatan adalah hal yang paling penting sementara kondisi
perekonomian kita pikirkan agar dampaknya dapat seminimal mungkin.
3.
PENTING! Untuk memiliki Dana Darurat. Dalam
kondisi saat ini terdapat banyak sekali ketidakpastian. Yang tadinya memiliki pekerjaan
layak, bisa tiba-tiba dirumahkan. Yang tadinya bisnis telah berjalan dengan
lancar, tiba-tiba tidak ada satupun pembeli yang datang. Menurut saya, konsep
dana darurat harus kita terapkan baik dalam keluarga maupun dalam bisnis. Agar
dalam kondisi saat ini, kita tidak perlu bingung untuk memikirkan kondisi
keuangan.
4.
Kita tidak hidup sendiri di dunia ini, jadi mari
kita saling membantu kepada seluruh umat manusia. Ayo kita bantu
pedagang-pedagang kecil dengan membeli jajanannya, menggunakan jasa ojek
online, dan berdonasi bagi sesama agar kita dapat meringankan beban mereka.
IV.
Mari Berdoa Bersama-sama
Marilah kita bersama-sama doakan,
untuk Bangsa kita agar bisa mengatasi COVID-19 ini dengan baik. Salah satu lagu
favorit saya dalam masa-masa saat ini adalah “Doa Kami-True Worshippers”.
Kurang lebih kutipan lirik yang saya yakini dalam part ini. “Bagi Bangsa ini,
kami berdiri dan membawa doa kami kepadaMu”; saya yakin bahwa seluruh
masyarakat di Indonesia tidak berhenti untuk mendoakan negeri kami. “Sesuatu
yang besar, pasti terjadi dan mengubahkan Negeri kami”; saya yakini juga bahwa
Tuhan memiliki rencana indah bagi Indonesia dan akan mengubahkan kami untuk
menjadi semakin maju dan semakin dekat dengan Tuhan.
Untuk itu, jangan lupa untuk kita
selalu mendoakan untuk para pemimpin bangsa ini, dari Bapak Presiden dan Wakil
Presiden, Ibu Menteri Keuangan, Bapak Gubernur BI, Bapak Komisioner OJK, Bapak
Menteri Kesehatan, dan seluruh jajaran Gubernur, Walikota dan Bupati agar
selalu diberikan hikmat kebijaksanaan dalam membuat kebijakan selama menangani
COVID-19 ini. Kita juga terus berdoa untuk para tim medis yang telah mendedikasikan
diri untuk penanganan COVID-19. Kita berdoa untuk para ilmuwan, agar dapat dengan
segera menemukan vaksin COVID-19. Tidak lupa juga kita terus berdoa bagi
masyarakat yang khususnya terdampak, baik yang berperan sebagai pengusaha, masyarakat
berpenghasilan rendah dan pegawai. Kita berdoa agar kita semua dapat melewati
situasi yang sulit ini, agar segala nya dapat berjalan dengan lancar.
Mamuju, 10 April 2020
@Raynaldoith
Tidak ada komentar:
Posting Komentar