Enjoy Your Reading!

Thanks for coming to my personal blog, hope you enjoy!

Minggu, 18 Oktober 2020

JASA BERSIH-BERSIH: SOLUSI BERSIH UNTUK MEMBANTU SESAMA

Did you know guys, kalau di liris Laporan Indonesia Spotlight periode Agustus 2020, dari survei yang dilakukan ke 586 pekerja informal di Indonesia, 86% dari mereka sangat terdampak COVID-19 dan penghasilan mereka sangat berkurang?

Dan ternyata hal tersebut memang betul yang terjadi di mereka.

Ada seseorang yang pekerja informal dulunya kerja jadi CS untuk di salah satu hotel di Jkt dan selama COVID-19 ini dia harus diberhentikan dan banting stir menjadi “silverman” yang biasa di pinggiran kota Jakarta;

Ada juga seseorang yang dulunya bekerja untuk aplikasi “si hijau” yang ternyata mereka menutup lini bisnis cleaning nya membuat mereka kesulitan untuk bisa mendapatkan order.



Karena itu, istri gw @vanessajacobus melihat kalau kita perlu melakukan sesuatu buat mereka dengan kita membuat @jasabersihbersih.jakarta


Konsepnya simple, kita mencoba menghubungkan teman2 yang membutuhkan jasa untuk membersihkan kos/apartemen/rumah/ruko/kantor nya ke Cleaners yang sudah memiliki experienced in cleaning industry.

Dengan teman2 menggunakan jasa bersih-bersih, kita ngga cuma bisa membantu orang lain yang terkena dampak COVID-19 saja, tetapi teman2 juga akan mendapatkan jasa layanan kebersihan yang sudah ngga diragukan lagi kualitasnya.


Kalau dibandingkan, @jasabersihbersih.jakarta memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan menggunakan jasa Asisten Rumah Tangga (ART).

ART

Jasabersihbersih.jakarta

Biaya yang ditanggung jauh lebih mahal, meliputi gaji bulanan, biaya makan, biaya lain-lain

Biaya yang dibebankan jauh lebih murah dibandingkan dengan jasa ART

Turut membantu pekerja informal yang terkena dampak COVID-19

Jika memiliki performance yang kurang baik, tidak bisa mencari pengganti dengan mudah

Performance Cleaners yang telah teruji

Memiliki SOP Protokol COVID-19

 Simulasi perhitungan memiliki ART vs Menggunakan @Jasabersihbersih.jakarta (2x/minggu)

ART

Jasabersihbersih.jakarta

Gaji ART: Rp1.500.000,00

Biaya makan: Rp20.000 x 30 = Rp600.000,00

Biaya BPJS: Rp100.000,00

Biaya THR: Rp1.500.000,00 / 12 = Rp150.000,00

Biaya Jaminan ke Penyalur: Rp 500.000,00

Total biaya: Rp2.850.000,00

Biaya Transportasi : Rp 15.000,00

Biaya pekerjaan (asumsi: 3 jam/order) : Rp 120.000,00

Total biaya per datang: Rp135.000,00

Jika 1 minggu 2x -> 1 bulan = 8x kunjungan


Total biaya: Rp135.000 x 8 = Rp1.080.000,00

Dengan menggunakan Jasabersihbersih.jakarta, teman-teman bisa menghemat s/d Rp1.770.000,00 setiap bulannya.

Jadi buat teman2 yang perlu jasa bersih-bersih jangan ragu lagi buat contact IG: @Jasabersihbersih.jakarta / 0811-1212-822

Thank you guys.

Jumat, 10 April 2020

SEBUAH CATATAN TENTANG COVID-19


COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) adalah suatu Virus yang menyerang saluran pernafasan. Pertama kali ditemukan di Tiongkok pada akhir tahun 2019. Hal ini mengakibatkan Perekonomian Tiongkok di awal tahun 2020 menjadi melambat. Kota Wuhan adalah epicentrum pertumbuhan COVID-19. Kota Wuhan memberlakukan lockdown di kotanya. Tiongkok membangun secara cepat rumah sakit untuk menangani kasus-kasus COVID-19. Pada akhirnya, strategi lockdown yang diberlakukan Tiongkok bisa berhasil. Pasien COVID-19 banyak yang berhasil disembuhkan dan pada akhirnya Tiongkok berhasil terbebas dari COVID-19.
Penyebaran COVID-19 ternyata meluas sampai keluar Negara Tiongkok, tak terkecuali Indonesia. Beberapa kali sebetulnya Indonesia terlalu “jumawa” akan keamanan di dalam negeri. Dengan pertumbuhan ekonomi yang menurun di Tiongkok, berperan besar dalam perekonomian Indonesia. Pada saat itu yang pertama kali terpikir adalah industri pariwisata, dimana banyak wisatawan Tiongkok yang berlibur di Indonesia seperti di Bali, Manado, Raja Ampat dan tempat pariwisata lain. Hal ini mendorong pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan subsidi maskapai di Indonesia. Dengan tujuan menurunkan harga tiket atau disubsidi oleh Pemerintah bertujuan untuk meningkatkan masyarakat yang berpergian agar perekonomian khususnya dari pariwisata tidak mengalami “shock” yang sangat besar. Padahal dengan penerapan strategi ini, akan meningkatkan frekuensi perpindahan orang baik dari dalam maupun luar negeri yang berpotensi menambah peluang masuknya COVID-19 di Indonesia.
Kasus pertama COVID-19 terjadi pada akhir Februari 2020. Kasus pasien positifnya terus bertambah sampai dengan di 10 April 2020 yang telah mencapai 3.000 ++ penderita. Dari minggu kedua Maret 2020, Pemerintah telah menerapkan kampanye social distancing yang selanjutnya diubah menjadi physical distancing. Implementasi dari kebijakan ini adalah masyarakat diminta untuk terus meminimalkan kontak yang melibatkan banyak orang. Penerapan implementasinya berimplikasi sangat banyak dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari Work From Home (WFH), larangan beribadat seperti ditiadakannya beribadat di Gereja tiap hari Minggu dan Sholat Jumat di Masjid, Pusat perbelanjaan didorong untuk menutup usahanya, dan masih banyak dampak-dampak lainnya.
Dalam catatan hari ini, saya ingin berbagi cerita mengenai dampak dari COVID-19 dalam segala aspek. Catatan ini saya buat disaat waktu luang saya selama menjalani WFH di masa COVID-19.

I.          Catatan Religius
Pertama yang ingin saya bagikan adalah tentang beribadah. Pernah ngga sih terbayangkan tentang Perayaan Ekaristi yang diikuti secara online? Selama ini saya belum pernah membayangkannya dan ternyata COVID-19 membuat hal ini bisa terjadi. Gereja berlomba-lomba untuk membuat saluran melalui Facebook atau Youtube agar para umat dapat mengikuti kegiatan Perayaan Ekaristi secara online. Perasaan saya pada saat pertama kali merasakan misa online sangat bercampur aduk, tetapi yang mendominasi adalah kerinduan saya untuk bisa beribadat di Gereja kembali. Memang benar kalau ada kata orang kita akan merindukan sesuatu saat telah kehilangan.
Puncak perasaan kesedihan saya adalah pada saat Perayaan Ekaristi di tanggal 5 April 2020 yang merupakan Perayaan Minggu Palma. Jika membayangkan Minggu Palma pada umumnya, akan ada kemeriahan untuk menyambut Tuhan Yesus dengan Daun Palma di tangan. Namun yang terjadi pada saat misa tersebut adalah kita hanya di depan layar gadget kita dengan memegang daun palma. Tidak ada sorak-sorai hanya nyanyian kita saja selama Perayaan Ekaristi. Lalu pemikiran ego saya keluar dan berpikir di dalam hati. “Apakah pantas Tuhan disambut dengan kondisi seperti ini? Dengan penyambutan secara virtual yang tidak tampak kegembiraan dalam menyambut Sang Raja?” Pemikiran-pemikiran itu membuat saya terdiam dan berpikir dalam kegalauan.
Bersyukur pada saat homili saya mendapatkan jawabannya. Dalam Homili yang disampaikan oleh Romo Andang, SJ, beliau menyampaikan tentang alasan menjadi Kristiani. Ada orang yang ingin menjadi Kristiani karena memperoleh jabatan atau uang atau kekuasaan. Tentu saja ini tidak berlaku untuk saya. Selanjutnya ada orang yang ingin menjadi Kristiani karena kemegahan/kemewahan. Jika hal ini menjadi alasan kita menjadi Kristiani maka misa online yang saat ini sedang diterapkan menjadi hal yang bermasalah. Ini sangat cocok sekali dengan saya. Saya memandang kemewahan dan kemegahan dalam perayaan Ekaristi. Padahal dalam menemukan Tuhan kita tidak perlu untuk berada dalam kemewahan dan kemegahan perayaan Ekaristi karena jawabannya ada di dalam hati kita masing-masing. Hal ini membuat saya seperti tertampar, bahwa selama perayaan online ini, saya terlalu memikirkan kemegahan dari sebuah perayaan tidak memikirkan bahwa kunci dari segala yang saya lakukan ada di dalam hati ini. Alasan untuk menjadi Kristiani yang baik adalah sadar bahwa dengan menjadi Kristiani dapat menjadi pembuka jalan untuk hubungan yang baik dengan Allah. Ya, alasan yang ketiga lah seharusnya yang ada dalam jiwa setiap orang, sehingga di masa-masa yang sulit ini kita bisa menjadi pembuka jalan dengan berbuat kebaikan bagi para sesama.

II.        Catatan Ekonomi
Selanjutnya hal yang menjadi pemikiran saya selama COVID-19 adalah dampak pada perekonomian. Dalam pekerjaan saya saat ini memang kami didorong untuk bisa peka pada perekonomian. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia telah dipangkas menjadi 4,2%-4,6% dari yang sebelumnya 5,2%. Bahkan dalam what-if scenario yang telah dibuat oleh Kementrian Keuangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai -0,1%. Memang jika membayangkan dampak ekonomi secara makro dari dampak COVID-19 ini sangat parah.
Jika kita mencoba untuk mengurutkan case per case dimana di Awal Tahun 2020 perekonomian Tiongkok loyo. Manufaktur tidak bisa berproduksi dengan normal karena diberlakukan social distancing. Hal ini berpotensi pada manufaktur dalam negeri yang mendapatkan supply barang dari Tiongkok. Dapat menyebabkan terhambatnya produksi karena kekurangan parts yang diproduksi. Selanjuntya setelah dari Tiongkok, Indonesia yang memberlakukan social distancing. Hal ini mengakibatkan industri manufaktur menjadi mengurangi kapasitas produksinya. Sulit untuk membayangkan berapa besar kerugian manufaktur karena pengurangan kapasitas produksi ini. Jika dulu saya sempat menghitung biaya recovery dari sebuah kasus linestop di perusahaan otomotif yang mencapai ratusan juta per menit nya, maka sudah dipastikan kerugian karena pengurangan kapasitas ini bisa mencapai ratusan miliar bahkan triliun rupiah.
Pada tanggal 10 April 2020, DKI Jakarta telah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dimana hanya beberapa perusahaan saja yang boleh buka, tidak boleh ada kerumunan lebih dari 5 orang, ojek online dilarang untuk mengangkut penumpang, restoran tidak boleh menyediakan makan di tempat, hanya industri tertentu saja yang boleh beroperasi, dll. Dapat dipastikan bahwa roda perekonomian di Jakarta yang juga merupakan pusat perekonomian di Indonesia menjadi collaps.
Dampak COVID-19 tidak hanya terasa di Jakarta, di luar Jakarta, pada sektor pariwisata sangat terkena dampak COVID-19 ini. Hotel-hotel telah banyak yang ditutup. Banyak Hotel, restoran dan tempat hiburan yang telah merumahkan pegawai nya, baik yang dirumahkan dengan PHK maupun yang dirumahkan tanpa mendapat upah.
Dalam kondisi saat ini jika kita membayangkan kondisi masyarakat yang berpendapatan rendah pasti sangat tersiksa. Biasanya mengandalkan uang harian untuk bisa mencukupi hidup sehari-hari namun saat ini tidak bisa bekerja. Tidak memiliki tabungan namun kehidupan harus terus berjalan. Oleh karena itu, ada baiknya kita bisa saling membantu khususnya kepada orang-orang yang tidak seberuntung kita.

III.      Catatan Pembelajaran
Menurut saya ada beberapa hal penting yang bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk kedepannya dari kondisi COVID-19 ini:
1.      Berdoa dan Memuliakan nama Tuhan lebih dari sekedar tempat beribadah. Mungkin dulu kita berpikir bahwa berdoa di tempat beribadah adalah segalanya. Dari COVID-19 ini mengajarkan kita bahwa beribadah bukan tentang segala fasilitas yang ada di rumah ibadah, tetapi dari ketenangan hati kita yang terdalam untuk menemukan Tuhan dan berkomunikasi dengan Nya.
2.      Kesehatan adalah hal utama. Dalam kondisi wabah seperti ini, mau tidak mau yang menjadi hal utama untuk diselamatkan adalah kesehatan. Himbauan pemerintah untuk #StayAtHome dan pemberlakuan PSBB, menunjukkan bahwa kesehatan adalah hal yang paling penting sementara kondisi perekonomian kita pikirkan agar dampaknya dapat seminimal mungkin.
3.      PENTING! Untuk memiliki Dana Darurat. Dalam kondisi saat ini terdapat banyak sekali ketidakpastian. Yang tadinya memiliki pekerjaan layak, bisa tiba-tiba dirumahkan. Yang tadinya bisnis telah berjalan dengan lancar, tiba-tiba tidak ada satupun pembeli yang datang. Menurut saya, konsep dana darurat harus kita terapkan baik dalam keluarga maupun dalam bisnis. Agar dalam kondisi saat ini, kita tidak perlu bingung untuk memikirkan kondisi keuangan.
4.      Kita tidak hidup sendiri di dunia ini, jadi mari kita saling membantu kepada seluruh umat manusia. Ayo kita bantu pedagang-pedagang kecil dengan membeli jajanannya, menggunakan jasa ojek online, dan berdonasi bagi sesama agar kita dapat meringankan beban mereka.

IV.      Mari Berdoa Bersama-sama
Marilah kita bersama-sama doakan, untuk Bangsa kita agar bisa mengatasi COVID-19 ini dengan baik. Salah satu lagu favorit saya dalam masa-masa saat ini adalah “Doa Kami-True Worshippers”. Kurang lebih kutipan lirik yang saya yakini dalam part ini. “Bagi Bangsa ini, kami berdiri dan membawa doa kami kepadaMu”; saya yakin bahwa seluruh masyarakat di Indonesia tidak berhenti untuk mendoakan negeri kami. “Sesuatu yang besar, pasti terjadi dan mengubahkan Negeri kami”; saya yakini juga bahwa Tuhan memiliki rencana indah bagi Indonesia dan akan mengubahkan kami untuk menjadi semakin maju dan semakin dekat dengan Tuhan.
Untuk itu, jangan lupa untuk kita selalu mendoakan untuk para pemimpin bangsa ini, dari Bapak Presiden dan Wakil Presiden, Ibu Menteri Keuangan, Bapak Gubernur BI, Bapak Komisioner OJK, Bapak Menteri Kesehatan, dan seluruh jajaran Gubernur, Walikota dan Bupati agar selalu diberikan hikmat kebijaksanaan dalam membuat kebijakan selama menangani COVID-19 ini. Kita juga terus berdoa untuk para tim medis yang telah mendedikasikan diri untuk penanganan COVID-19. Kita berdoa untuk para ilmuwan, agar dapat dengan segera menemukan vaksin COVID-19. Tidak lupa juga kita terus berdoa bagi masyarakat yang khususnya terdampak, baik yang berperan sebagai pengusaha, masyarakat berpenghasilan rendah dan pegawai. Kita berdoa agar kita semua dapat melewati situasi yang sulit ini, agar segala nya dapat berjalan dengan lancar.

Mamuju, 10 April 2020
@Raynaldoith